Kembali ke Alam di Ubud

Monday, 12 March 2012     (hits 1263)

Selama lebih dari delapan puluh tahun, Ubud yang terletak di Kabupaten Gianyar, Bali, telah memukau para pelancong mancanegara. Ubud mampu memberikan kenangan yang membekas lama bagi setiap orang yang datang berkunjung.

Bahkan, Ubud menjadi tempat pencarian cinta Elizabeth Gilbert, penulis buku Eat, Pray, Love yang kemudian diangkat ke film dengan judul yang sama dan dibintangi aktris Hollywood Julia Robert. Ada beragam pengalaman yang dapat dipetik para turis.

Ubud sendiri dipandang sebagai pusat seni dan budaya Bali. Tak heran, tiap aktivitas wisata pun berhubungan dengan budaya, kedekatan pada alam, spiritual, dan hubungan antara sesama manusia. Setiap aktivitas di Ubud pun pada akhirnya mampu memberikan kesan mendalam bagi mereka.

Anda berminat menghabiskan waktu di Ubud? Bersiaplah jatuh cinta pada aura magis Ubud. Aura yang membuat Anda tenang dan selalu membuat Anda rindu untuk kembali ke Ubud. Orang Bali menyebut aura ini sebagai “taksu”. Berikut 10 aktivitas wisata yang bisa Anda lakukan di Ubud.

Yoga di pagi hari. Ubud identik dengan yoga. Orang-orang datang dari seluruh dunia untuk belajar yoga di Ubud. Tak hanya bagi pemula, para profesional pun menikmati sesi yoga di Ubud.

Hotel-hotel di Ubud pun memoles diri dengan yoga. Mulai dari memberikan kelas yoga gratis bagi tamu sampai menyediakan tempat khusus untuk yoa. Sebagian besar tempat-tempat yoga tersebut memiliki panorama alam seperti taman atau pemandangan ke arah sawah.

Salah satu tempat yoga yang terkenal adalah Yoga Barn di Jalan Hanoman. Yoga Barn memiliki beragam kelas yoga baik untuk kelas singkat maupun intensif. Sambut matahari pagi dengan beryoga di tengah panorama alam khas Ubud.

Naik sepeda di tepi sawah. Ingat adegan Julia Robert di film “Eat, Pray, Love” yang naik sepeda dengan latar sawah? Ya, kegiatan bersepeda di tengah sawah merupakan aktivitas paling digemari wisatawan saat pelesir di Ubud.

Sewa sepeda sebenarnya mudah dicari di Ubud. Mulai dari sekedar keliling pusat kota sampai sewa sepeda gunung untuk bersepeda sejauh ke Kintamani. Ada baiknya Anda mengambil paket tur dengan sepeda.

Dengan paket bersepeda ini, Anda akan diajak pemandu berkeliling sawah dan masuk ke perkampungan penduduk setempat. Anda pun bebas berinteraksi dan merasakan keramahan khas masyarakat Ubud.

Jika Anda tak ingin bersepeda, ikut saja tur trekking dengan berjalan melintasi sawah dan masuk ke perkampungan. Inilah pengalaman lansung berinteraksi dengan masyarakat Bali dan mengenal kehidupan dan budaya yang mereka jalani.

Belajar memasak makanan khas Bali. Kelas memasak di Ubud tengah naik daun. Restoran dan hotel menyediakan cooking class atau kelas memasak untuk wisatawan. Materi yang diajarkan adalah menu-menu khas Bali seperti sate lilit dan lawar, maupun kuliner Indonesia seperti nasi goreng, gado-gado, atau nasi kuning.

Tertarik mencoba memasak kuliner Bali? Coba datangi Paon Bali di Laplapan yang mengadakan kelas memasak di rumah. Restoran Casa Luna juga terkenal sebagai tempat belajar memasak dan dipandang sebagai restoran pertama yang membuka kelas memasak.

Peserta kelas memasak biasanya akan diajak terlebih dahulu ke pasar tradisional. Oleh karena itu, beberapa kelas sudah dimulai sejak pagi hari. Saat di pasar, peserta akan membeli langsung bahan-bahan yang dibutuhkan.

Konsultasi pengobatan tradisional ala Ketut Liyer. Spa dan wellness di Ubud berkembang pesat memanjakan turis yang datang. Namun masyarakat lokal sendiri telah mengenal pengobatan tradisional dengan menggunakan bahan-bahan alam sebagai obat sejak dahulu.

Pengobatan tradisional tersebut layaknya spa, menggunakan terapi pijat dan aspek spiritual dengan menitikberatkan pada meditasi. Masyarakat Bali menyebut para “dokter” tradisional ini dengan sebutan “balian”.

Salah satu “balian” di Ubud yang terkenal adalah Ketut Arsana. Selama lebih dari 25 tahun, ia memberikan pengobatan dengan terapi pijat dan obat-obatan herbal. Sementara Ketut Liyer, “balian” yang menjadi tenar lewat kemunculannya dalam novel dan film “Eat, Pray,Love” melakukan terapi dengan pendekatan meditasi.

Berwisata kuliner. Karena pariwisata Ubud sudah berkembang sejak sebelum era kemerdekaan Indonesia, kuliner yang muncul di Ubud pun sangat beragam. Anda bisa menemukan kuliner Eropa sampai Amerika. Sebut saja gelato khas Italia, masakan Jepang, taco dan burito khas Meksiko, sampai masakan khas Perancis.

Kuliner khas Indonesia terutama Bali pun begitu populer di Ubud. Coba sebut bebek goreng khas Bali, pasti yang pertama disebut adalah restoran-restoran di Ubud yang menjual bebek goreng. Atau, nasi ayan Bu Mangku Kedewatan sampai ayam betutu di Warung Murni.

Mengunjungi museum. Ubud merupakan kecamatan dengan museum terbanyak di Gianyar. Ada enam museum yang bisa Anda kunjungi. Hampir semuanya berhubungan dengan seni dan lukisan.

Misalnya Museum Puri Lukisan yang merupakan museum pertama di Bali. Museum inimenampilkan koleksi-koleksi lukisan Bali dalam perjalanan tiga era, mulai dari masa kerajaan Bali hingga masa kemerdekaan Indonesia.

Ada pula museum seni lainnya seperti Neka Art Museum, Don Antonio Blanco Museum, Museum Rudana, dan Agung Rai Museum of Art. Sementara museum terbaru yang dimiliki Ubud adalah Museum Marketing 3.0 yang baru diresmikan pada tahun 2011.

Menonton tari Kecak Api. Tak lengkap rasanya tanpa mellihat pertunjukan seni tari tradisional Bali saat bertandang ke Ubud. Apalagi Ubud dianggap sebagai pusat seni Bali. Sangat mudah mencari tempat-tempat yang menyajikan pertunjukan tari di Ubud.

Namun, pertunjukan tari biasa dipentaskan pada malam hari. Biasanya di atas jam tujuh malam. Anda bisa menonton tari Legong atau tari Kecak Api. Ada dua tempat yang terkenal untuk menyaksikan seni tari Bali tersebut yaitu Pura Dalem dan Puri Agung Saren.

Tari Kecak Api bisa disaksikan di Pura Dalem yang terletak di Jalan Raya Ubud. Anda akan terpukau dengan kemagisan tarian tersebut. Sementara di Puri Agung Saren, Anda bisa menyaksikan tari Legong. Selain kedua tempat ini, ada banyak tempat lainnya yang menyediakan pertunjukan tari tradisional maupun wayang kulit.

Belanja di Pasar Ubud. Masuk ke dalam Pasar Ubud, Anda disambut dengan warna-warna cerah. Pasar tradisional yang terletak di pusat kota itu menawarkan aneka kerajinan tangan khas Bali. Mulai dari tas anyaman, baju-baju bertuliskan Bali, pakaian tradisional Bali, sampai patung dan lukisan.

Coba juga aneka jajanan pasar yang dijual di pasar ini. Sebaiknya datang di pagi hari. Sebab, siang hari biasanya dipadati oleh rombongan turis. Anda juga bisa belanja di pasar yang terletak di Tegallalang. Ingatlah untuk menawar harga sebelum Anda membeli.

Mengarungi Ayung dengan rafting. Tempat berarung jeram yang terkenal di Bali adalah arung jeram di Sungai Ayung. Ada beberapa operator rafting di Sungai Ayung. Arung jeram di Sungai Ayung masuk dalam kategori kelas II dan III. Sehingga, arung jeram di sungai ini cocok untuk pemula.

Keunikan arung jeram di Sungai Ayung adalah panorama di kanan dan kiri sungai. Pohon-pohon kelapa menjulang, pepohonan di bukit, sampai sawah berundak. Tak hanya itu, di tengah pengarungan sungai, Anda akan dibawa melihat ukiran seniman Bali berupa relief Ramayana di tebing batu. Paket arung jeram biasanya sudah termasuk makan siang dan antar jemput.

Menyapa monyet di Mongkey Forest. Ubud menjadi rumah para monyet. Anda harus mampir dan berjalan-jalan di kawasan Mongkey Forest. Di sini, monyet-monyet berkeliaran dengan bebas. Banyak turis yang asyik berfoto dengan monyet-monyet ini. Namun hati-hati terkadang monyet-monyet ini usil mengambil barang para turis.

Di area masuk Monkey Forest, pengunjung disambut patung monyet ukuran besar. Nah, ketika masuk ke dalam hutan seluas sekitar 27 hektar tersebut, suasana sejuk dan asri menyambut. Di dalam Mongkey Forest terdapat pura yang juga sering dikunjungi turis.

 

Kompas.com