Berawal dari Membantu, Bambang Edy Kini Punya 482 Angkringan

Tuesday, 16 April 2013     (hits 1968)


Berawal dari keinginan membantu teman-temannya yang terkena PHK, Bambang Edy Supriyono (54) kini memiliki 482 warung angkringan. Warung khusus untuk warga kelas bawah itu tersebar mulai Jakarta sampai Surabaya.

Sebanyak 82 warung angkringan atau biasa disebut masyarakat warung kucingan itu terletak di berbagai sudut Kota Surabaya. Namun jumlah terbesar ada di Kota Jakarta di mana 400 warung tersebar di Jabodetabek.

Jabodetabek menjadi lokasi terbesar warung kucing binaan Edy karena memiliki jumlah penduduk urban besar. Selain itu, Jabodetabek juga dinilai lebih bersahabat terhadap pendatang.

Meski mengaku enggan menyebutkan jumlah pendapatannya dari 482 warung kucingnya, Edy mengaku mendapatkan bagian keuntungan sebesar Rp 18 ribu per warung per malam.

Bagian keuntungan ini jika dikalikan 428 warung maka paling tidak Edy mendapatkan Rp 8.676.000 per malam atau Rp 260.280.000 per bulan dan Rp 3,2milyar setahun. Jumlah yang sedemkian besar untuk bisnis warung kucing .

"Motivasi saya sebenare bukan uang. Ada temen mengeluhkan anaknya kena PHK. Setelah ngomong-ngomong kita bantu gerobak dan seluruh perangkat beserta modalnya. Ada delapan orang yang kita bantu semuanya gratis," kata Edy ditemui di rumahnya di Dusun Wanasri, Desa Tirtosari, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang.

Sebulan kemudian Edy mampir ke salah satu warung kucing yang ia bantu. Tanpa ia duga, pemilik warung kucing tersebut memberikan uang 'jatah' sebesar Rp 250 ribu. "Saya kaget diberi bagian keuntungan padahal niat saya murni membantu," kata dia seperti dilansir dari Suara Merdeka.

Kejadian ini memberikan inspirasi bagi Edy. Ia menghitung bahwa dengan modal kucingan hanya Rp 2,1 juta bisa memberikan keuntungan bersih Rp 250 ribu per bulan atau Rp 8 ribu per hari. Dengan keuntungan sebesar ini maka usaha warung kucing an akan mencapai Break Event Point (BEP) atau balik modal hanya dalam tempo sekitar delapan bulan.

Edy kemudian merancang usaha kucingan skala besar. Ia kemudian merekrut sebanyak mungkin pengangguran maupun pemuda putus sekolah untuk bergabung. Kebanyakan dari mereka diambil dari wilayah sekitar Klaten, dan Boyolali.

Lama kelamaan usaha ini makin berkembang hingga kini mencapai jumlah 428 unit. Edy bercita-cita jumlah warung kucing ini akan bisa mencapai seribu buah sehingga bisa menciptakan banyak lapangan pekerjaan.

Untuk memudahkan pengelolaan ratusan warung, Edy menciptakan managemen bisnis. Ia membentuk kelompok-kelompok warung kucingan yang terdiri dari 20 orang. Setiap kelompok diberikan fasilitas tempat tinggal plus kebutuhan sehari-hari karyawan.

Ia juga menggandeng masyarakat sekitar tempat kos karyawan sebagai pemasok kebutuhan warung kucingan. Adapun untuk kebutuhan bahan mentah ia bekerja sama dengan pengusaha lokal di mana usaha dijalankan.

"Setiap orang saya perlakukan seperti halnya keluarga. Mereka bukan hanya karyawan melainkan anak saya. Saya mengembangkan hubungan kekeluargaan. Di luar jam kerja pantang saya bertanya pekerjaan. Saya hargai mereka sepenuhnya," kata Edy, membuka kiat bisnisnya.

Edy mengaku dirinya menyerahkan sepenuhnya pengelolaan usaha pada rekan bisnisnya. Ia bahkan enggan memberikan nama, merek ataupun identitas apapun pada warung kucing tersebut. Semua ia serahkan pada karyawan.

"Setiap kelompok dipimpin koordinator yang orangnya kita gilir tiap minggu. Tugas mereka mengontrol barang masuk, membayar tagihan rekanan dan mentransfer uang ke bank," kata dia.

Meski senang usaha berkembang namun Edy justru tidak ingin karyawan-karyawan setia itu bekerja padanya selamanya. Ia berharap mereka bisa memulai usaha sendiri dan akhirnya bisa Mandiri.

"Saya persilahkan karyawan untuk Mandiri. Kemandirian dan keberanian membuka usaha itu justru tujuan saya. Mereka boleh membeli gerobak dan peralatannya. Saya juga dorong mereka punya usaha sampingan di rumah. Dari pada istri menganggur sebaiknya membuka ayam ternak, tani atau berdagang ," kata dia.

Lebih lanjut Edy mengaku ia mewajibkan seluruh karyawannya untuk mempunyai tabungan. Pasalnya, ia meyakini bahwa orang sukses bukan ditentukan seberapa besar pendapatannya tetapi seberapa besar ia mampu menambung tiap bulan. (as)

 

Eciputra.com , Ciputraentrepreneurship.com , Ciputranews.com , Properti.net