Rumah Produksi Lokal Masuk Pasar Dunia

Tuesday, 24 April 2012     (hits 1592)

 


 

Tidak banyak usaha kreatif Indonesia yang sukses menembus pasar dunia. Namun, Dreamlight World Media telah melakukannya. Dulu tak ada yang menyangka bahwa label produksi asli Indonesia ini mampu menembus ketatnya persaingan di media global.

“Kami punya cabang di Jogja, Jakarta, Bandung dan kota-kota lain. Kami juga sudah terdaftar sebagai company di Hollywood dan Afrika,” kata Presiden Direktur Dreamlight World Media, Eko Nugroho, di sela-sela kuliah umum Sosialisasi Wirausaha Industri Inovatif ke-3 di Auditorium UNS beberapa waktu lalu.

Masyarakat banyak mengenal Dreamlight dari berbagai program televisi yang beberapa tahun terakhir memiliki rating tinggi. Beberapa reality show yang dibuat Dreamlight lebih banyak menceritakan pengalaman orang-orang tidak mampu: Bedah Rumah, Tolong, Tukar Nasib dan sebagainya. Beberapa tahun lalu, program semacam ini menjadi tontonan alternatif di tengah maraknya sinetron dan infotainment.

Begitulah program-program garapan Dreamlight tampil beda di berbagai layar televisi. Di tengah derasnya berita kawin-cerai selebritis Indonesia, Dreamlight justru menampilkan tayangan yang cenderung idealis.

“Media itu bisa mengubah pola pikir masyarakat maka kredo kami adalah entertaining, inspiring dan transforming. Kami ingin memproduksi konten media kelas dunia yang menginspirasi,” terang Eko.

Dengan program-program semacam ini, Dreamlight justru semakin naik daun di media televisi. Dreamlight kini memperluas lini produknya dengan merambah dunia animasi dan film. Yang fenomenal, Dreamlight sukses menggarap beberapa seri Dufan Defender, film animasi pertama yang didedikasikan khusus untuk Taman Impian Jaya Ancol.

Tanpa infotainment dan acara selebritis, konten yang diproduksi memang tak bisa diandalkan untuk mengeruk untung dalam waktu cepat. Bagi Eko, ini bukan soal uang di dunia hiburan. Menurutnya, perusahaan yang berbasis di Ungaran, Kabupaten Semarang ini malah sering mengerjakan program yang tidak menguntungkan. “Misalnya kami bikin program Bedah Warung. Sekarang siapa yang mau melirik warung? Tapi malah kita kebanjiran request untuk melakukan bedah warung.

Tampaknya inilah wujud idealisme Eko sejak dulu. Meskipun lahir dari keluarga pengusaha, dia tahu betul bagaimana susahnya ayahnya saat mulai merintis poultry shop di Jogja, puluhan tahun lalu. Satu pelajaran penting yang selalu diungkapkannya adalah tidak terburu-buru fokus pada uang atau keuntungan dalam waktu cepat. “Jika awalnya saja tujuannya sudah uang, pasti nanti jadi berantakan,” ujarnya.

Begitu pula yang diterapkan oleh Eko saat memimpin Dreamlight. Di media televisi, Dreamlight tidak mengikuti arus kebanyakan program yang bertujuan instan. Keberanian ini berujung pada apresiasi seperti berbagai penghargaan seperti Panasonic Award atau Best Kid TV Program.

Tak mudah untuk mencapai semua itu. Dimulai dari sebuah ruang garasi sederhana, usaha ini bisa dibilang merangkak dari nol. Saat itu, Eko punya keyakinan. “Kalau sungguh-sungguh pasti berhasil. Suatu saat akan ada media luar negeri datang ke sini.” Dan ternyata beberapa tahun lalu keyakinan itu terwujud saat awak New York Times mengunjungi studio mereka di Ungaran dan mengikuti syuting Tukar Nasib. Kini mereka menjadi satu-satunya produsen konten media yang mendunia namun masih berbasis di luar Jakarta.