Ban Bekas untuk Aneka Perkakas

Thursday, 26 April 2012     (hits 3421)

Di tangan Sukamto, ban-ban bekas yang awalnya hanyalah sampah dan limbah tak berguna bisa diolah menjadi aneka perkakas rumah tangga. Dari ban-ban bekas itu terciptalah sandal, keset, ember, kursi, ban andong, ayunan, dan pot tanaman hias. Semuanya terlihat apik dan unik.

Pengusaha ban bekas ini tinggal di Dusun Karasan, Desa Palbapang, Bantul, DIY. Ban-ban bekas telah mengantarnya pada kesuksesan. Di desanya, ia dikenal sebagai juragan yang memiliki banyak tanah. Ia juga berhasil menyekolahkan kedua anaknya sampai perguruan tinggi.

Usaha pengolahan ban bekas mulai digeluti sejak tahun 1976. Saat melihat ban-ban bekas hanya teronggok begitu saja, ia prihatin. Dalam benaknya, ia pun mulai berimajinasi membuat berbagai peralatan sederhana dari ban-ban bekas itu.

Dengan modal awal 10 ban mobil, ia mulai mencoba membuat ember timba dan talinya. ”Waktu itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan sumur. Jadi, kebutuhan ember dan tali timba sangat tinggi. Umumnya ember dibuat dari plastik. Saya mencobanya dari ban, dan ternyata lebih kuat dan awet,” katanya.

Satu per satu model perkakas terus diciptakan Sukamto. Setelah ember, ia menjajal membuat kursi, lalu ban andong, hingga sandal jepit. Semuanya terinspirasi dari perkakas yang sudah ada. ”Setiap melihat perabotan, saya selalu berpikir bisa enggak, ya, dibuat dari ban. Kalau menurut saya bisa, akan saya coba,” ujarnya.

Selama 10 tahun pertama, Sukamto menjalani usahanya hanya dengan istrinya. Ia belum melibatkan orang lain. Maklum pesanannya yang diterimanya belum terlalu banyak. Setelah ia sanggup menembus pabrik-pabrik mebel sebagai penyuplai karet ban, pesanan terus mengalir.

Sebagian besar pelanggannya adalah perajin mebel di Jepara dan Ponorogo. Karet ban tersebut dimanfaatkan untuk bahan pembuat jok kursi. Selain pabrik mebel, ia juga menyetorkan barangnya ke toko-toko bangunan dan pasar-pasar tradisional.

Pesanan yang terus menumpuk memaksanya untuk mempekerjakan karyawan. Namun, persoalan itu juga tidak mudah. Pasalnya, tidak setiap orang bisa mengolah ban.

”Saya harus melatih mereka dulu selama dua bulan supaya paham dan mengerti karakter ban. Irisan harus disesuaikan dengan serat ban, jadi tidak sembarangan,” paparnya.

Dibutuhkan keahlian khusus untuk mengolahnya, mulai dari mengupas pelapis luar ban, melipat, membalik, hingga memaku saat pembuatan. Tidak sembarang orang bisa memaku setiap sambungan ban bekas. Kawat-kawat kecil padat yang berada dalam ban membuatnya sulit saat dipaku. Mengupas ban bekas ukuran besar juga tergolong sulit. Biasanya Sukamto menggunakan arit atau celurit tajam.

Perkakas hasil olahan ban bekas dijual dengan harga bervariasi. Ayunan, misalnya, dijual seharga Rp 15.000, ember ukuran besar Rp 20.000, dan sandal seharga Rp 6.500. Untuk limbah ban yang tidak terpakai, Sukamto menjualnya seharga Rp 600 per kg ke pabrik-pabrik karet. Di tangannya, semua komponen ban memiliki nilai ekonomi.

Puncak kejayaan usaha Sukamto terjadi awal 2000-an. Omzetnya saat itu bahkan mencapai Rp 50 juta per bulan. Dari omzet tersebut, ia mendapatkan margin keuntungan sekitar 50 persen.

Gempa tahun 2006 membuat usahanya sedikit goyah karena perusahaan mebel langganannya di sekitar Bantul banyak yang rontok. Namun, ia tetap bertahan meski omzetnya turun.

Kini Sukamto bekerja dengan lima karyawan. Meski sudah menjadi bos, ia tetap turun tangan langsung dalam kegiatan produksi.

”Tenaga saya suruh fokus membuat karet ban untuk jok, sementara saya membuat sandal, ayunan, dan perkakas lainnya yang membutuhkan ketelitian,” ujar pria kelahiran Bantul tersebut.

Meski omzetnya saat ini berkisar Rp 25 juta per bulan, Sukamto masih eksis dan gigih mengolah ban-ban bekas. Ia berharap krisis segera pulih karena usahanya sangat bergantung pada kelancaran bisnis sektor mebel. ”Kalau mebel kolaps, kami langsung terkena imbasnya. Tahun 2008-2009 banyak pabrik mebel kolaps sehingga pesanan pun turun drastis,” katanya.

Semua hasil produksinya menjadi stok yang disimpan di gudang. Ia yakin barang-barang tersebut pasti akan laku begitu ekonomi kembali bergairah. Toh, ia juga tidak mengeluarkan biaya penyimpanan karena gudang yang ia pakai adalah miliknya sendiri.

Untuk memperoleh ban bekas, Sukamto tinggal menghubungi rekan-rekannya yang menjadi pengepul. Kadang-kadang ia langsung berburu ke lapangan untuk mendapatkan harga yang lebih murah. Untuk ban mobil biasanya dibeli seharga Rp 10.000 per buah, ban motor Rp 500 per buah, dan ban truk Rp 25.000 per buah.

Tertarik mengikuti sepak terjang Sukamto? Silakan dicoba. Modalnya adalah ketekunan dan keuletan. ”Jangan mudah menyerah meski usaha tengah goyah. Tetap berproduksi dan berkreasi supaya semangat kita tidak padam,” ujarnya. (*/Kompas Cetak)